Brilian: Cheng Beng Bisa Dijadikan Objek Wisata

Medan, (Analisa). Untuk kali pertama Ketua Per­wakilan Umat Budha Indonesia (Walubi) Sumatera Utara Dr Indra Wa­hidin dan Anggota Komisi E DPRD Sumut Brilian Moktar, Jumat (17/4) menghadiri ritual penutup Cheng Beng (Sembah­yang Leluhur-red) di Kom­pleks Ma­kam Tionghoa Yayasan Budi Luhur, Kelurahan Kedai Durian, Kecamatan Medan Johor.

Selain kedua tokoh itu, juga hadir Ketua Yayasan Budi Luhur Harun yang akrab disapa Alun, Penasihat Hukum Yayasan Budi Luhur Sukiran, Wakil Ketua INTI Sumut Sujadi, To­koh Masyarakat Tionghoa yang juga mantan Ketua PSMTI Sumut Eddy Djuandi, Se­kretaris dan Wakil Sekre­taris INTI Medan William Hasli dan Hendra Cendikiawan, Ketua dan Sekre­taris INTI Medan Johor Jhony Alun dan Dr William Tandean, Ke­tua INTI Medan Denai Tjin Kuang, Ketua PINTI Medan Herlina, Ketua Terpilih PSMTI Medan Djono Ngatimin SH, Patrick Sukamto, Ketua INTI Medan Barat Syamsul Yanto, Ketua INTI Medan Denai Herman Yang serta se­jumlah Pengurus Yayasan Budi Luhur dan masyara­kat Tionghoa lainnya.

Ritual penutup Cheng Beng yang dipimpin seorang Saikong ter­sebut, selain ditandai pemba­karan hio sepan­jang dua meter dan hio kecil di sepu­taran areal tempat ritual berlang­sung, juga ditandai dengan sesajen berupa ma­kanan, minuman serta buah-buahan.

Penutup Cheng Beng tersebut juga diwarnai dengan pembakaran replika rumah, uang, baju, sepatu, selop dan bentuk-bentuk replika lainnya yang terbuat dari kertas.

Menurut Ketua Yayasan Budi Lu­hur Alun, kepercayaan warga Tiong­hoa pada bulan kedua dan tujuh penanggalan Imlek, pintu akhirat dibuka. Mereka yang sudah meninggal, arwahnya akan turun ke bumi dan mengunjungi keluar­ganya. Saat itulah keluarga harus mengadakan sembah­yang kubur, supaya ketemu arwah leluhur.

”Jadi, ritual penutup Cheng Beng yang dilaksanakan setelah 15 hari Cheng Beng tersebut, juga bermakna untuk melepas kembali arwah-arwah para leluhur kembali ke tempat peris­tirahatannya. Se­hingga, pele­pasan yang ditandai dengan sesajen berupa makanan dan minuman serta buah-buahan tersebut, dapat memberikan kete­nangan para leluhur yang kembali ke tempatnya,” ujar Alun.

Begitu juga, kata Alun bagi keluarga yang menyelenggarakan ritual penutup Cheng Beng, akan diberikan kemu­dahan dalam berusaha, bekerja, dalam berumah tangga dan limpahan rezeki oleh Sang Pencipta.

Bantuan Beras

Tidak sampai di situ, Keluarga Be­sar Yayasan Budi Luhur juga mem­berikan bantuan beras kepada masya­rakat kurang mampu di kawasan Yaya­san Budi Luhur. Beras tersebut diserah­kan secara simbolis oleh, Alun di lokasi ritual pembakaran replika rumah.

Dalam kesempatan itu, Pengu­rus dan Keluarga Besar Yayasan Budi Luhur serta sejumlah warga Tionghoa Kedai Durian menolak keinginan Ketua Yayasan Budi Luhur Harun (Alun) yang sempat berkeinginan mengundurkan diri dari jabatannya.

“Alun merupakan sosok pe­mim­pin yang loyal dan mudah bersahabat kepada siapapun. Dia juga dikenal baik dan peduli ke­pada sesama. Jadi, kami tidak setuju kalau Alun mundur,” tegas Piyan yang diamini sejumlah rekan-rekannya yang lain, seperti Burhan, Udin sejumlah ibu rumah tangga lainnya.

Sementara, Anggota Komisi E DPRD Sumut Brilian Moktar me­nyam­paikan ucapan terima kasihnya kepada keluarga besar Yayasan Budi Luhur yang masih melaksanakan ritual Cheng Beng dirangkai ritual penutup setiap ta­hunnya. Tak lupa, dia juga me­nyam­paikan terima kasihnya kepa­da lapisan masyarakat yang ikut membantu menyukseskan ritual penutup Cheng Beng terse­but.

“Pengurus Yayasan Budi Luhur yang dipercaya melakukan pera­watan dan pemeliharaan makam Tionghoa di kompleks Yayasan Budi Luhur di Kedai Durian pantas mendapatkan apresiasi. Betapa tidak, kompleks ma­kam Tionghoa yang luasnya seratusan hektare ter­sebut, masih terawat dan ter­peli­hara dengan baik. Ini bisa dija­dikan objek wisata di daerah Sumatera Utara, khususnya kawasan Medan Johor,” ujar Brilian Moktar.

Di bagian lain, Brilian Moktar juga me­nolak bila makam Tiong­hoa Ya­yasan Budi Luhur tersebut harus me­ngeluarkan pajak untuk kegiatan ke­agamaan pada hari-hari besar Tiong­hoa yang setiap tahun­nya dilaksa­nakan.

“Saya yang akan maju di depan bila makam tersebut harus dikenakan pajak,” tegas Brilian Moktar.

Usai ritual, Ketua Yayasan Budi Lu­hur juga memberikan bantuan berupa uang saku kepada kurang lebih 100 anak di sekitar Yayasan Budi Luhur yang setiap tahunnya juga ikut berperan aktif dalam penyelenggaraan Cheng Beng. Selanjutnya, Keluarga Besar Yayasan Budi Luhur dan masya­rakat Tionghoa serta mitra-mitra ya­yasan lainnya, menikmati jamu­an makan siang bersama. (msm)

Analisa/istimewa) RITUAL CHENG BENG: Ketua Yayasan Budi Luhur, Alun bersama elemen masyarakat lainnya melakukan ritual Cheng Beng di kompleks makam Tionghoa Kedai Durian, Jumat (17/4).
Analisa/istimewa) RITUAL CHENG BENG: Ketua Yayasan Budi Luhur, Alun bersama elemen masyarakat lainnya melakukan ritual Cheng Beng di kompleks makam Tionghoa Kedai Durian, Jumat (17/4).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *